Sabtu, 29 Januari 2011

Ngaji Fiqh Dasar Bersama Al Habib Abdurrahman bin Hasan Al Habsyi Di At-Taqwa Balikpapan

4 Hal Yang Haram Bagi Orang Yang Tidak Memiliki Wudlu

Ini merupakan secuil dari apa yang bisa saya tangkap dari ulasan yang sangat luas oleh al-Habib Abdurrachman bin Hasan al-Habsyie tentang pembahasan ini. Beliau sendiri adalah Ketua Da’wah Ar-Rabithah al-‘Alawiyah Kor Wil Jakarta Timur, yakni murid dari al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun, Darul Lughah wa ad-Da’wah – Bangil Jatim dan al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz BSA Darul Musthafaa Tarim Hadramaut Yaman. Ada 4 hal bagi orang yang tidak memiliki wudlu’ yang diharamkan yakni :

Pertama, shalat. 

Shalat diharamkan bagi orang yang tidak memiliki wudlu’ atau tidak bersesuci, baik bagi laki-laki maupun perempuan, baik anak-anak maupun orang dewasa. Salah satu landasan atas hal ini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam :

مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ
“Kunci shalat adalah bersesuci”. 

Kedua, thawaf

Habib berkata : "ulama berselisih pendapat tentang yang lebih utama diantara rukun haji, sebagian ulama mengatakan bahwa yang lebih utama adalah thawaf, dan sebagian lainnya mengatakan wukuf di ‘Arafah". Seperti juga shalat, thawaf pun haram bagi orang yang tidak bersesuci baik  laki-laki maupun perempuan, baik anak-anak maupun orang dewasa. 

Ketiga, menyentuh al-Qur’an.

Habib menganalogikan dalam menjelaskan perkara ini sebagai berikut : “orang yang berakal akan mengatakan bahwa “ini gelas -mengisyaratkan dengan telujuk beliau ke sebuah gelas dihadapan beliau”, atau orang berakal akan berkata : “jangan sentuh gelas itu”, maka apakah berakal jika seumpaman dikatakan : “jangan sentuh piring itu (menginsyatkan dengan telunjuk beliau kepada sesuatu yang tidak ada)”. Oleh karena itu, ketika Allah melarang sesuatu maka sesuatu itu benar-benar nampak dan bisa digapai oleh manusia.

Allah Subhanatu wa Ta’alaa berfirman :

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
“tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci”.

Habib menjelaskan bahwa maksud tersebut adalah orang yang bersesuci atau memiliki wudlu, sebagaimana telah beliau analogikan sebelumnya. Oleh karena itu bagi orang yang tidak memiliki wudlu’ diharamkan menyentuh al-Qur’an.

Keempat, membawa al-Qur’an.

Dalil atas hal ini, Habib mengistilahkan dengan “qiyas plus”, maksudnya adalah jika menyentuh saja tidak boleh apabagi membawa. Kemudian aHabib memberikan contoh lainnya terkait “qiyas plus” ini, yakni firman Allah :

فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا
“maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka”

Didalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’alaa melarang mengatakan uff/ah, lantas apakah berarti kalau kita tonjok itu boleh ? Tentu saja tidak, sebab mengatakan ah saja itu dilarang apabila yang lebih dari itu. Ini adalah salah satu yang beliau contohkan, beliau juga mencontohkan lainnya serta menjelaskan berbagai jenis qiyas.

Habib berkata : "perkara pertama (shalat) dan kedua (thawaf) itu haram mutlak bagi baik dewasa maupun anak kecil. Maka, jika anak kecil melakukan shalat maka itu haram, dan yang menanggung dosanya adalah orang tuanya. Namun, perlu dibedakan antara anak kecil ikut-ikutan shalat dan shalat, jika hanya ikut-ikutan shalat seperti orang ruku’ ikut ruku’, itu bukan shalat tapi ikut-ikutan shalat, jika seperti itu maka tidak apa-apa sebab bukan disebut sebagai shalat. Demikian juga thawaf dengan membawa anak kecil, sedangkan anak kecilnya tidak bersesuci maka yang berdosa adalah kedua orang tuanya".

Sedangkan perkara ketiga dan ke empat itu diperbolehkan bagi anak kecil dengan tujuan untuk belajar. Namun jika misal kita tidak memiliki wudlu’ dan ingin membaca al-Qur’an, kemudian meminta anak kecil mengambilkan al-Qur’an untuk kita, maka menyentuhnya dan membawanya itu haram bagi anak kecil tersebut, sebab tujuannya bukan untuk belajar melainkan untuk tujuan dibawa ke kita, dan yang berdosa adalah kita.

Bagaimana jika membawa al-Qur’an dengan benda yang lainnya ? Habib mengatakan bahwa banyak pendapat mengenai hal ini, namun salah satu yang lebih berhati-hati adalah pendapat Imam Ibnu Hajar, kemudian Habib memberikan contoh, apabila membawa al-Qur’an dengan benda lainnya (mengisyatkan dengan sebuah sedotan) dengan niat membawa al-Qur’an maka itu haram, berbeda halnya jika bukan niat membawa al-Qur’an tetapi niat membawa benda yang lain tersebut maka itu boleh, tapi itu sangat sulit.

Beberapa Pertanyaaan Dari Jama'ah :

1. Bagaimana hukum menyentuh al-Qur’an terjemahan ? 

Habib menjawab: "haram, sebab pada dasarnya itu al-Qur’an itu tidak bisa di terjemahkan, itu adalah bahasa baku dari al-Qur’an. al-Qur’an tidak bisa dipahami dengan terjemahan sebab jika dipahami demikian maka kandungan al-Qur’an sangatlah sempit". Beliau mengulangi kembali, itu haram.

Berbeda halnya jika kita menyentuh buku ini (mengisyatkan buku ratib yang beliau pegang) maka itu boleh, walaupun didalamnya ada ayat al-Qur’an. tetapi bisa haram jika misalnya didalamnya (buku) ada ayat al-Qur’an, kemudian kita menyentuhnya dengan niat untuk menyentuh ayat al-Qur’an maka itu haram. Contohnya lagi, menulis “Bismillahir Rahmanir Rahiim” di papan tulis, kemudian kita menyentuh tulisan basmalah tersebut dengan niat menyentuh ayat al-Qur’an maka itu haram, berbeda halnya jika kita menyentuh papan tulis saja bukan dengan niat menyentuh ayat al-Qur’an saja".

2. Bagaimana hukum membaca “Shadaqallahul ‘Adhim” dan apa dalilnya ? 

Habib menjawab : "bukan setiap sesuatu itu membutuhkan dalil secara langsung, selama sesuatu tersebut tidak bertentangan dengan syariat maka itu tidak apa-apa. Jangan dikira bahwa berdalil itu mudah, hal semacam ini (bacaan shadaqallahul ‘adhim) tidak membutuhkan pada dalil tetapi membutuhkan ilmu dalam memahaminya".

Habib juga mencontohkan dengan ketika orang tua kita memberikan sesuatu dan kita mengucapkan terma kasih, apa itu salah dan apa ada dalilnya, beliau juga mencontohkan beberapa hal lain yang penulis tidak bisa tangkap dengan sempuna. Ulasan ini cukup panjang namun intinya adalah tidak apa-apa mengucapkan shadaqallahul ‘adhim setelah membaca al-Qur’an.

Wallahu A’lam.
NB : ada beberapa pertanyaan lain yang tidak terlalu penulis tangkap, oleh karena itu penulis sekali lagi memberi tahukan bahwa tulisan ini hanya segelintir yang bisa penulis tangkap saja, adapun jika seandainya direkam dan ditulis ulasan beliau seluruhnya dengan berdasarkan kalam beliau secara utuh maka sungguh akan membutuhkan berlembar-lembar untuk menulis. [] 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komunitas Blogger Madura